Demo lagi…demo lagi…
mungkin itu ucapan yang pertama kali muncul dari abang sopir angkot, sopir bajaj, pengendara motor serta pengguna jalan lain.
Demo yang katanya untuk membantu rakyat miskin lewat penentangan atas kenaikan harga BBM tersebut tak pelak malah menimbulkan keresahan bagi banyak pihak. Semua lapisan masyarakat dirugikan..mulai dari orang kaya sampai rakyat jelata yang sekali lagi “katanya” ingin mereka bantu.
Demo seringkali justru menimbulkan berbagai ekses negatif, mulai dari polusi udara (bakar ban dll), kemacetan lalu lintas (blokir jalan), ketakutan masyarakat dll. Lebih jelas mengenai demo bisa dibaca di artikel sebelumnya yang mengutip dari blog tetangga.
Aksi mahasiswa saat ini sangat tidak rasional. Bayangkan apabila sampai terjadi kerusuhan seperti 10 th yang lalu, bangsa ini akan semakin terpuruk. Belum juga bangkit kita dari krisis multidimensional, akankah kita hadapi krisis berikutnya?.
Sepertinya mahasiswa sekarang lebih memilih berdemo daripada melakukan aksi simpati. Mahasiswa bisa membantu orang-orang di pemerintahan tingkat desa berkaitan dengan penyaluran BLT. Atau penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat miskin.
Yang sangat pula disayangkan adalah komentar-komentar mantan pejabat yang cenderung menyudutkan pemerintah sekarang. Mulai dari Amien Rais, Megawati, Rizal Ramli, Kwik Kian Gie dkk. Apa yang telah mereka kerjakan “untuk rakyat miskin” pada masa mereka menjabat? Bukankan mereka tidak dapat membendung kenaikan harga BBM? sudahlah bapak-bapak & ibu-ibu sekalian pikirkan lagi apa yang telah anda lakukan dimasa lampau?
Janganlah semakin memperkeruh keadaan negeri ini. Sampaikan kritik secara bijak. Biarkan pemerintah menjalankan programnya. Kita yakin pemerintah saat ini lebih baik dari pemerintahan sebelumya. Salut juga buat SBY yang sebentar lagi menghadapi pemilu, beliau berani mengorbankan popularitasnya dengan menaikkan harga BBM meski pemilu sudah menghadang. Bandingkan dengan pemerintahan sebelumnya yang berusaha menahan kenaikan BBM dengan menjual BUMN-BUMN vital untukmempertahankan popularitasnya.
Jangan menambah sengsara rakyat miskin. Dengan mereka berdemo dijalan-jalan, banyak sopir angkot yang kehilangan pendapatannya karena tidak ada penumpang atau jalan macet sehingga banyak bensin/solar terbuang.
Belum hilang gaung “let’s go green”, “stop global warming “, “save the earth ” dari ingatan kita, sekarang malah muncul perilaku-perilaku yang kontradiktif.
Sadarlah rekan mahasiswa, demo lebih banyak menimbulkan mudhorot daripada manfaat.
Lebih baik anda menyadarkan rekan-rekan anda atau bahkan diri anda untuk tidak melakukan pemborosan energi. Sadar atau tidak, banyak mahasiswa yang jalan-jalan tanpa tujuan (pemborosan BBM), menghambur-hamburkan uang di cafe dsb.