Pak Tua…Kau Masih Bekerja…

Jakarta…

Kota ini memang megah. Dikota kecil inilah sebagian besar perputaran uang di Indonesia terjadi.  Dari sini pula urusan negara dikendalikan. Luar biasa.

Kota sejuta impian. Banyak orang mengadu nasibnya di kota yang bernama Jakarta ini. Memang banyak diantara mereka mendapatkan impiannya, tapi tak sedikit pula yang tidak jelas nasibnya dan hilang impiannya. Ketika kita mengamati berjalan di lingkungan sekitar, cobalah rasakan, apa yang beda dengan daerah asal kita.

Kota ini seolah tidak peduli nasib orang miskin. Jakarta terus melaju mengejar impiannya. sementara rakyat miskin menahan lapar.

Banyak orang yang menggelandang dan tidur ditempat-tempat umum. Bahkan pernah saya dapati seorang bapak membawa istri dan anaknya dengan gerobak yang tidak terlalu besar. Tampaknya semalam mereka tidur di gerobak itu dan ketika pagi tiba mereka menggunakan gerobak sebagai alat untuk mencari nafkah. Teman, pernahkah kita pikirkan andai kita yang ada di gerobak itu?.

Di lain waktu ketika saya berjalan menuju kantor saya temukan pula bapak tua renta yang memegang besi runcing yang menandakan kalo dia seorang pemulung. Dengan langkah yang sudah tidak tegap lagi beliau menyusuri kota yang angkuh ini. Di usia setua itu dia masih  bekerja dengan keras untuk mendapatkan uang untuk membeli sesuap nasi. Dimanakah orang-orang kaya berada? Kemanakah dolar mereka?

He..ternyata orang kaya itu sedang membeli kopi yang harganya puluhan ribu satu cupnya. Orang kaya itu sedang menawar mobil yang harganya milyaran rupiah. Orang kaya itu sedang menikmati uang dari hasil kerja kerasnya. Dia merasa bahwa rizqi yang dia dapat adalah dari kerja kerasnya. Dia lupa bahwa ada Dzat yang telah mengamanahkan rizqi kepadanya yang sebagian adalah milik bapak tua renta tadi.

Memang tidak semua orang kaya seperti itu. Tapi seberapa banyak orang kaya yang sadar akan hal tersebut?

Satu lagi pemandangan menyedihkan. Seorang bapak yang juga sudah berumur (boleh dibilang uzur) menggunakan baju semacam Hansip, beliau  makan nasi hanya dengan sambal dan daun kol.

Subhanallah……..

Memang Jakarta kota yang aneh. Ketika ada pengamen muda dengan suara merdu banyak orang yang rela menyerahkan uang ribuan namun ketika kita melihat orang yang harusnya menikmati hari tuanya sedang berperang untuk mendapatkan sesuap nasi, kita seolah olah tidak melihatnya.

Beramal tidak harus menunggu kaya. Banyak orang yang mempunyai prinsip beramal setelah kaya, ketika dia kaya mereka lupa karena telah dilenakan oleh nafsu. Nafsu untuk hidup mewah, bahkan mungkin nafsu untuk menguasai dunia.

Tinggalkan Balasan